BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan merupakan hal yang sangat
penting untuk kemajuan bangsa, maka dari itu pemuda sebagai penerus bangsa
sangat membutuhkan pendidikan untuk menunjang dan mengembangkan potensinya.
Definisi Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat[1].
Tujuan pada pendidikan dasar menekankan pada dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Salah satu komponen untuk mencapai tujuan tersebut adalah pembelajaran matematika tingkat sekolah dasar.
Tujuan pada pendidikan dasar menekankan pada dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Salah satu komponen untuk mencapai tujuan tersebut adalah pembelajaran matematika tingkat sekolah dasar.
Pada pelajaran matematika masih
banyak hasil prestasi siswa yang menurun
dikarenakan siswa belum memahami dan mendalami konsep dasar matematika seperti
perkalian, perkalian dalam pembelajaran matematika sangat diperlukan dan
dibutuhkan, karena setiap pembelajaran matematika perkalian akan digunakan
dalam setiap tingkat dalam pembelajaran matematika dan pembaharuan sistem
mengajar yang belum diterapkan di sekolah, sehingga siswa merasa jenuh dan
hasil prestasi belajar mereka menurun. Banyak faktor yang membuat hasil
prestasi belajar siswa menurun dikarenakan kurangnya minat siswa dalam
mengikuti pembelajaran, kurangnya kekreatifan guru, strategi kurang tepat,
sarana prasarana yang kurang memadai serta faktor keluarga dan lingkungan yang
kurang mendukung. Oleh
karena itu, seorang guru harus mencoba membuat siswa lebih tertarik didalam
proses pembelajaran khususnya pembelajaran matematika, dan meningkatkan hasil
prestasi belajar pada siswa.
Pada penelitian ini peneliti memilih
pelajaran matematika karena pada mata pelajaran
ini banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam pelajaran matematika yang
merupakan pelajaran inti yang harus dipahami siswa. Pelajaran matematika sangat dibutuhkan oleh suatu
Negara karena jatuh bangunnya suatu Negara tergantung dari kemajuan di bidang
matematika. Oleh karena itu sebagai langkah awal untuk mengarah pada tujuan
yang diharapkan adalah mendorong dan memotivasi masyarakat khususnya peserta
didik supaya mampu bernalar dan berpikir
kritis, logis, dan sistematis[2].
Kemudian mengembangkan ketrampilan siswa tersebut adalah salah satu solusi
untuk mengembangkan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together
(NHT). Model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT)
ini mengutamakan pada kesadaran siswa agar belajar untuk mengembangkan
pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan dalam suasana belajar yang demokratis
dan terbuka. Siswa yang lebih mampu dari siswa lainnya dapat menjadi tutor dan
menjadi ketua dalam sebuah kelompok, jadi siswa yang prestasinya tinggi dapat
membantu siswa yang berprestasi rendah[3].
Berdasarkan pengamatan saya di MI Mubtadi’ul Ulum kesamben jombang kurikulum
yang digunakan sekolah adalah kurikulum KTSP namun pada realitanya masih banyak
guru yang hanya menggunakan metode ceramah dengan alasan metode tersebut lebih
praktis dan relatif serta tidak menghabiskan waktu yang terlalu banyak. Namun hasil yang diperoleh dari metode tersebut, Nilai matematika yang diperoleh siswa kelas
III masih relatif rendah. Selain itu kurangnya minat siswa dalam mempelajari matematika, faktor keluarga dan
lingkungan yang kurang mendukung, kurang menguasai materi dasar dalam
pembelajaran matematika dan kurang latihan mengerjakan soal-soal di rumah. Hal ini ternyata juga mempengaruhi hasil belajar siswa dalam
pelajaran matematika, karena itu dalam menyelesaikan soal-soal matematika
terutama perkalian, masih banyak siswa yang belum hafal dan masih melihat
catatan perkalian.
Pentingnya kompetensi ini jika tidak
diiringi dengan kepahaman dan prestasi belajar siswa yang semakin meningkat
yang dapat diketahui setelah guru memberi tes untuk mengetahui sejauh mana
kemampuan siswa mengenai perkalian yang mereka pelajari pada pembelajaran
sebelumnya. Hal tersebut dapat dilihat dalam suatu tes perkalian antara 2 dan 9
sebagai berikut :
a.
2x5..
2x6.. 2x7.. 2x8…
b.
9x5..
9x6.. 9x7.. 9x8..
Dari
25 siswa yang mengikuti tes tersebut,
hasilnya 5 siswa (20%) memberikan jawaban tepat dan 20 siswa (80%) belum mampu
memberikan jawaban yang tepat.
Dari
hasil tes diatas peneliti mempunyai 2 solusi untuk memecahkan problem tersebut,
pertama melalui model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT)
dan yang kedua melalui media LKS, dari dua solusi tersebut siswa yang mengetahui
konsep dasar perkalian serta matang
dalam materi perkalian dapat membantu siswa yang lain yang belum bisa memahami
perkalian. Kebetulan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together
(NHT) ini belum pernah diterapkan di kelas III MI Mubtadiul ulum.
Berdasarkan latar belakang di atas,
maka peneliti mengadakan penelitian tindak kelas dengan judul “Peningkatan
Prestasi Belajar Perkalian dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Number
Head Together (NHT) Pada Mata Pelajaran Siswa Kelas III MI Mubtadi’ul Ulum
Kesamben Jombang “. Dengan harapan metode Number Head Together (NHT) dapat
membantu meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pelajaran matematika materi
perkalian di MI Mubtadiul Ulum khususnya kelas III.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas dapat ditemukan rumusan masalah sebagai berikut :
1.
Bagaimana
aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Number
Head Together (NHT) pada kelas III MI Mubtadi’ul Ulum kesamben jombang ?
2.
Bagaimana
respon siswa dalam pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Number
Head Together (NHT) pada kelas III MI Mubtadi’ul Ulum kesamben jombang?
3.
Bagaimana
prestasi siswa dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif
tipe Number Head Together (NHT) pada kelas III MI Mubtadi’ul Ulum
kesamben jombang?
C.
Tindakan yang dipilih
Tindakan
yang dipilih untuk memecahkan masalah tentang rendahnya hasil belajar siswa
yang meliputi berfikir, pemecahan masalah, kemampuan bertanya, sikap, dan
keaktifan dalam mengikuti pembelajaran matematika adalah dengan menerapkan
model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT).
D.
Tujuan
Dari rumusan masalah diatas, tujuan Penelitian Tindak Kelas ini
adalah sebagai berikut :
1.
Untuk
mendeskripsikan aktivitas dalam pembelajaran dengan model pembelajaran
kooperatif tipe Number Head Together (NHT) pada kelas III MI Mubtadi’ul
Ulum kesamben jombang
2.
Untuk
meningkatkan respon siswa dalam pembelajaran dengan model pembelajaran
kooperatif tipe Number Head Together (NHT) pada kelas III MI Mubtadi’ul
Ulum kesamben jombang
3.
Untuk
meningkatkan prestasi siswa dalam pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif
tipe Number Head Together (NHT) pada kelas III MI Mubtadi’ul Ulum
kesamben jombang
E.
Lingkup penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah, seperti kurangnya sarana
pendukung belajar, prestasi belajar rendah, serta guru yang merasa kurang
kreatif dalam mengajar, maka pembatasan masalah dari penelitian ini adalah
bagaimana upaya peningkatan prestasi belajar siswa dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) pada materi
perkalian mata pelajaran matematika kelas III MI Mubtadi’ul Ulum Kesamben
Jombang.
F.
Manfaat
Manfaat pada guru adalah guru dapat lebih variatif dalam memilh
strategi yang sesuai dengan indikator yang dicapai, serta dapat meningkatkan
kekurangan guru dalam proses pembelajaran.
Manfaat bagi siswa adalah siswa dapat belajar dengan aktif,
kreatif, efektif, menyenangkan dan mendapat pengalaman baru. Sehingga prestasi
belajar siswa lebih meningkat.
Manfaat bagi sekolah adalah sekolah dapat menjadi lebih maju karena
siswa dan guru sama-sama mempunyai kompetensi yang tinggi dalam pembelajaran
Manfaat bagi peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe Number Head Together (NHT) ini akan mempermudah peneliti dalam
mengajarkan pelajaran matematika pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung,
selain itu diharapkan menjadi bahan rujukan dan pertimbangan bagi peneliti yang
lain, yang ingin meneliti dengan topik dan obyek yang sama.
Sifat Pertukaran dalam perkalian (komutatif)
b. Sifat Pengelompokan
perkalian (asosiatif)
BAB
II
KAJIAN TEORI
A.
Prestasi Belajar
1.
Pengertian Prestasi Belajar
Istilah prestasi belajar terdiri dari dua suku
kata, yaitu prestasi dan belajar. Istilah prestasi sebagai hasil yang
telah dicapai[1].
Salah satu pakar pendidikan yaitu Morgan mengatakan bahwa belajar merupakan
perubahan prilaku yang bersifat permanen sebagai hasil dari pengalaman.
Beberapa definisi belajar menurut beberapa ahli psikologi
yaitu[2]
:
a.
Arno F. Wittig
dalam Psichology of Learning : 1981. Belajar adalah perubahan yang
permanen terjadi dalam segala macam tingkah laku suatu organisme sebagai hasil
belajar.
b.
James Patrick
Chaplin dalam Dictionary
of Psychology:
1985. Belajar dibatasi dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama Belajar atasi dalah
perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan
dan pengalaman. Rumusan kedua Belajar ialah proses memperoleh respons-respons
sebagai akibat adanya latihan khusus.
c.
Hintzman, Douglas L. dalam The Psychology of Learning and
Memory. Belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme,
manusia atau hewan, disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah
laku organisme tersebut.
Sedangkan menurut pendapat beberapa
pakar dalam pengertian belajar, di antaranya
adalah sebagai berikut[3]:
a. W.S. Winkel dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pengajaran. Menurutnya,
pengertian belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam
interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam
pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai-nilai sikap. Perubahan itu
bersifat secara relatif konstan dan berbekas”.
b. S. Nasution MA
mendefinisikan belajar sebagai perubahan kelakuan, pengalaman dan latihan. Jadi belajar
membawa suatu perubahan pada diri individu yang belajar. Perubahan itu tidak
hanya mengenai sejumlah pengalaman, pengetahuan, melainkan juga membentuk kecakapan,
kebiasaan, sikap, pengertian, minat, penyesuaian diri. Dalam hal ini meliputi
segala aspek organisasi atau pribadi individu yang belajar.
Dari beberapa pendapat belajar dari berbagai pakar pendidikan dapat
disimpulkan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku yang bersifat
permanen yang dipengaruhi oleh proses interaksi dengan lingkungannya.
Adapun yang dimaksud dengan prestasi belajar menurut Muhibbin Syah adalah
tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang
dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil mengenai sejumlah materi
pelajaran tertentu[4].
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan
prestasi belajar adalah “penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang
dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau
angka nilai yang diberikan oleh guru”.
Berdasarkan asumsi-asumsi di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah tingkat
keberhasilan tujuan pembelajaran yang dicapai dari suatu kegiatan atau usaha
yang dapat memberikan kepuasan emosional dan dapat diukur dengan alat atau tes
tertentu.
Adapun dalam penelitian ini yang dimaksud prestasi belajar adalah tingkat
keberhasilan peserta didik dalam memahami materi, tingkat penguasaan materi,
perubahan emosional, atau perubahan tingkah laku yang dapat diukur dengan tes
tertentu dan diwujudkan dalam bentuk nilai atau skor setelah menempuh proses
pembelajaran.
2. Indikator-indikator dalam
Prestasi Belajar
Menurut dari Bloom, hasil belajar
atau prestasi belajar mencakup 3 kemampuan
yaitu : kognitif, afektif, dan psikomotor peserta didik[5].
Dapat dilihat tabel dibawah ini, menjelaskan 3 kemampuan tersebut beserta
indikator yang harus dicapai .
No.
|
Jenis
Prestasi
|
Indikator
prestasi belajar
|
1)
|
Ranah cipta (kognitif)
a.
Knowledge
b.
Comprehension
c.
Application
d.
Analysis
e.
Syintesis
f.
Evaluation
|
Ø Dapat menjelaskan
Ø Dapat mendefinisikan dengan lisan
sendiri
Ø Dapat memberikan contoh
Ø Dapat menggunakan secara tepat
Ø Dapat menguraikan
Ø Dapat
mengklasifikasikan/memilah-milah
Ø Dapat menghubungkan
Ø Dapat menyimpulkan
Ø Dapat menggeneralisasikan (membuat
prinsip umum)
|
2)
|
Ranah Rasa (Afektif)
a.
Receiving
(Sikap menerima)
b.
Responding
(Member respons)
c.
Valuing
(Nilai)
d.
Organization
(Organisasi)
e.
Characterization
(karakterisasi)
|
Ø Mengingkari
Ø Melembagakan atau meniadakan
Ø Menjelmakan dalam pribadi dan
perilaku sehari-hari)
|
3)
|
Ranah Karsa (Psikomotor)
a.
Keterampilan
bergerak dan bertindak
b.
Kecakapan
ekspresi
verbal dan nonverbal
|
Ø Mengkoordinasikan gerak mata, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya
Ø Mengucapkan
Ø Membuat mimik dan gerakan jasmani
|
Dari tabel diatas sudah cukup
jelas bahwa dalam prestasi belajar harus dapat mengembangkan 3 kemampuan tersebut yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
Dalam prestasi belajar Pengukuran Intelegensi
(IQ) merupakan tolak ukur dari prestasi belajar, kesuksesan dalam prestasi
belajar tergantung dari IQ, IQ disini sangat berperan penting dalam prestasi
belajar. Namun ada beberapa kasus yang membuktikan bahwa IQ yang tinggi
ternyata tidak menjamin kesuksesan dalam belajar dan hidup bermasyarakat. Dari
pernyataan itu dapat disimpulkan bahwa IQ bukan satu-satunya mengukur dan
mengembangkan prestasi belajar.
Faktor-faktor lain yang ikut serta
mempengaruhi prestasi belajar yaitu menurut pandangan Muhibbin Syah faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar menjadi tiga bagian, yaitu :
a.
Faktor-faktor
intern
Faktor yang ada
didalam dirinya sendiri yang dapat mempengaruhi prestasi belajar, antara lain
adalah :
1)
Faktor
fisiologis
Yaitu faktor
kesehatan fisik yang kuat akan memberi keuntungan dan hasil belajar yang baik.
Begitu sebaliknya keadaan yang kurang baik akan berpengaruh pada hasil belajar.
2)
Faktor
psikologis
Dalam faktor
psikologis yang mempengaruhi hasil belajar dibagi menjadi beberapa bagian yaitu
:
a)
Intelegensi,
faktor ini mengutamakan prestasi belajar tergantung pada IQ yang dimiliki
seseorang. Slameto
mengatakan bahwa “tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada
yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah[6].”
b)
Perhatian,
Menurut al-Ghazali bahwa perhatian
adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi jiwa itupun bertujuan semata-mata kepada
suatu benda atau hal atau sekumpulan obyek[7].
Disini peneliti mengambil pengertian perhatian adalah perhatian yang terarah akan menghasilkan pemahaman dan kemampuan yang
mantap.
c)
Minat, Slameto mengemukakan bahwa minat adalah
“kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan,
kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus yang disertai dengan rasa
sayang.[8]”
peneliti mengemukakan bahwa minat adalah keinginan
yang tinggi terhadap sesuatu yang dimiliki seseorang.
d)
Bakat Menurut Hilgard adalah the
capacity to learn. Dengan kata lain, bakat adalah kemampuan untuk belajar[9].dari
asumsi itu bakat merupakan kemampuan,
potensi, ketrampilan yang dimiliki seseorang dalam menyongsong masa yang akan
datang.
e)
Motivasi,
dorongan seseorang dalam meraih prestasi setinggi mungkin
b.
Faktor-faktor
ekstern
Yaitu faktor
yang memepengaruhi dari luar diri seseorang
Faktor yang ada
diluar dirinya sendiri yang dapat mempengaruhi prestasi belajar, antara lain
adalah :
1)
Faktor
sosial
Yang meliputi faktor sosial adalah:
Lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan
masyarakat
2)
Faktor
non sosial
Yang meliputi faktor non sosial adalah :
keadaan dan
letak gedung sekolah, keadaan dan letak rumah tempat tinggal keluarga,
alat-alat dan sumber belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan
siswa.
c.
Faktor
pendekatan belajar
Faktor yang
mempengaruhi prestasi dalam sistem pengajaran seperti metode, pendekata, dan
strategi yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Dan
untuk lebih jelasnya dan memudahkan memahaminya peneliti menjelaskan dengan
skema hubungan tersebut :
PRESTASI
BELAJAR
|
Faktor Ekstern :
1. Faktor sosial
a. Lingkungan keluarga
b. Lingkungan sekolah
c. Lingkungan masyarakat
2. Faktor non sosial
a. Rumah
b. Gedung sekolah
c. Alat dan sumber belajar
d. Iklim/cuaca
e. Waktu belajar
|
Faktor intern :
1. Faktor fisiologi
a. Kesehatan tubuh
2. Faktor Psikologi
a. Intelegensi
b. Perhatian
c. Minat
d. Bakat
e. Motivasi
|
Faktor-faktor pendekatan belajar :
a. Metode belajar
b. Strategi belajar
|
B.
Pembelajaran Kooperatif
1. Pengertian pembelajaran
kooperatif
Pembelajaran kooperatif Menurut Isjoni mengutip dari Slavin
adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga
dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar[10].
Sedangkan johnson mengemukakan pembelajaran kooperatif
adalah pemanfaatan kelompok kecil untuk memaksimalkan belajar mereka dan
belajar anggota lainnya dalam kelompok itu[11].
Dan ada beberapa pakar-pakar yang memberi sumbangan pemikiran bagi
pengembangan model pembelajaran
kooperatif adalah John dewey dan Herbert Thelan. Menurut Dewey kelas seharusnya
merupakan cerminan masyarakat yang lebih besar. Thelan telah mengembangkan
prosedur yang tepat untuk membantu para siswa bekerja sama secara berkelompok[12].
Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan
bahwa Model pembelajaran kooperatif
adalah salah satu model yang mengutamakan kerja sama antar siswa,
sehingga guru dapat sekaligus memberi pelajaran bahwa manusia merupakan makhluk
sosial yaitu makhluk yang membutuhkan interaksi antar sesamanya.
Model ini berlandaskan pada tiga teori
yaitu[13]:
a. Teori Ausubel
David Ausubel adalah seorang ahli psikolog
pendidikian. Menurut Ausubel bahan pelajaran yang dipelajari haruslah bermakna.
Pembelajaran bermakna merupakan
suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat
dalam struktur kognitif seseorang.
b. Teori Piaget
Teori ini mengacu kepada kegiatan pembelajaran
yang harus melibatkan partisipasi peserta didik. Dalam teori ini siswa
lebih banyak terlibat dalam pembelajaran sedangkan guru hanya menjadi
fasilitator.
c. Teori Vygotsky
Vygotsky
mengemukakan pembelajaran merupakan suatu perkembangan pengertian. Ia
membedakan adanya dua pengertian yang spontan dan yang ilmiah.
Dari teori tersebut dapat diketahui bahwa Hal
yang terpenting dalam pembelajaran kooperatif adalah bahwa siswa dapat belajar
dengan cara bekerja sama dengan teman[14].
Para siswa dapat memanfaatkan pembelajaran ini memberi kesempatan untuk
bersosialisasi. Teman yang mempunyai kemampuan lebih dapat membantu siswa yang
mempunyai kemampuan yang lemah dan setiap anggota dapat memberi sumbangan pada
prestasi kelompok. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam
menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan ketrampilan dalam
rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Pada hakekatnya pembelajaran kooperatif sama
dengan kerja kelompok, walaumpun pembelajaran kooperatif terjadi dalam bentuk
kelompok, tetapi tidak setiap kerja kelompok dikatakan pembelajaran kooperatif.
Bennet menyatakan ada lima unsur dasar yang
dapat membedakan pembelajaran kooperatif dengan kerja kelompok, yaitu[15] :
1.
Positive interdepedence (saling ketergantungan
positif)
2.
Interaction face to face
3.
Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi
pelajaran dalam anggota kelompok
4.
Membutuhkan keluwesan
5.
Meningkatkan ketrampilan bekerja sama dalam
memecahkan masalah (proses kelompok)
Adapun karakteristik pembelajaran kooperatif
adalah :
a.
Siswa dapat bekerja kelompok untuk menuntaskan
materi belajar
b.
Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki
kemampuan atau ketrampilan tinggi, sedang, dan rendah
c.
Mungkin bisa anggota kelompok berasal dari
ras, budaya, suku, dan jenis kelamin yang berbeda.
d.
Penghargaan lebih berorientasi kelompok
ketimbang individu
Dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya
mempelajari materi saja, tetapi siswa atau peserta didik juga harus mempelajari
ketrampilan-ketrampilan khusus yang disebut ketrampilan kooperatif. Ketrampilan
kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Tujuan
penting dalam pembelajaran kooperatif adalah untuk mengajarkan kepada siswa
ketrampilan kerjasama dan kolaborasi.
Sedangkan menurut Linda Lungreng ada beberapa
manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan prestasi yang rendah, yaitu[16] :
- Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas
- Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
- Memperbaiki sikap terhadap IPA dan sekolah
- Memperbaiki kehadiran
- Angka putus sekolah menjadi rendah
- Penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar
- Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil
- Konflik antar pribadi berkurang
- Sikap apatis berkurang
- Pemahaman yang lebih mendalam
- Motivasi lebih besar
- Hasil belajar lebih tinggi
- Retensi lebih lama
- Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
kooperatif memudahkan siswa dalam memahami konsep pembelajaran dalam bentuk
kerja kelompok, karena disini siswa lebih berperan aktif dalam kelompok kecil
dan mengajarkan siswa untuk bersosialisasi.
2.
Sintaks Model Pembelajaran
kooperatif
Dalam
langkah-langkah pembelajaran kooperatif ini peneliti menyajikan dalam bentuk
tabel dibawah ini[17].
Fase
|
Perilaku Guru
|
Fase
1
Menyampaikan
tujuan dan memotivasi siswa
|
Guru menyampaikan semua tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa
belajar.
|
Fase
2
Menyajikan
informasi
|
Guru menyajikan informasi kepada
siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
|
Fase
3
Mengorganisasi
siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
|
Guru menjelaskan kepada siswa
bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap agar melakukan
transisi secara efisien.
|
Fase
4
Membimbing
kelompok belajar dan bekerja
|
Guru membimbing kelompok-kelompok
belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
|
Fase
5
Evaluasi
|
Guru mengevaluasi hasil belajar
tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil kerjanya.
|
Fase
6
Memberikan
penghargaan
|
Guru mencari cara-cara untuk
menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
|
3. Pembelajaran kooperatif tipe Number
Head Together (NHT)
Pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) merupakan
salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur-struktur
khusus yang dirancang untuk mempengaruhi interaksi siswa dalam memiliki tujuan
untuk meningkatkan penguasaan isi akademik.
Number Head Together (NHT) merupakan suatu pendekatan yang
diembangkan oleh Spencer Kagen untuk melibaqtkan para siswa dalam menelaah
materi yang tercakup dalam suatu pelajaran tersebut. Sebagai ganti pertanyaan
untuk seluruh kelas, guru menggunakan empat langkah seperti berikut :
a.
Penomoran
Guru memberi siswa kedalam kelompok yang
berangotakan 5-6 orang dan masing-masing siswa mendapat nomor antara 1-6
b.
Pengajuan pertanyaan
Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa
c.
Berpikir bersama
Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban
pertanyaan tersebut
d.
Pemberian jawaban
Guru memanggil satu nomor tertentu, kemudian
siswa yang mendapat nomor yang telah disebut guru menjawab pertanyaan untuk
seluruh kelas.
Langkah-langkah tersebut dikembangkan menjadi enam langkah sesuai dengan
kebutuhan pelaksanaan penelitian ini. Keenam langkah tersebut adalah sebagai
berikut :
Sintaks model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT)
Fase
|
|
Fase 1
Persiapan
|
guru mempersiapkan
rancangan pelajaran dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),
Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif
tipe NHT.
|
Fase 2
Pembentukan Kelompok
|
Guru membentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran
kooperatif tipe NHT. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang
beranggotakan 4 sampai 5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa
dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda.
|
Fase 3
Diskusi Masalah
|
Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok
sebagai bahan yang akan dipelajari dan dikerjakan bersama kelompok
|
Fase 4
Memanggil nomor anggota atau pemberian
jawaban
|
menyebut satu nomor
dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan
dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
|
Fase 5
Memberi kesimpulan
|
Guru memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua
pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
|
Fase 6
Memberi penghargaan
|
guru
memberikan penghargaan berupa kata-kata pujian pada siswa dan memberi nilai
yang lebih tinggi kepada kelompok yang hasil belajarnya lebih baik.
|
4.
Kelebihan dan kekurangan pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT)
Kelebihan pembelajaran kooperatif tipe Number
Head Together (NHT) sebagai berikut
:
a.
Setiap siswa menjadi siap semua
b.
Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh
c.
Siswa yang kemampuannya tinggi dapat mengajari
siswa yang kemampuannya rendah
Kekurangan pembelajaran kooperatif tipe Number
Head Together (NHT) sebagai berikut
:
a.
Kemungkinan nomor yang sudah dipanggil
dipanggil lagi
b.
Kesulitan dalam menata tempat duduk
c.
Cenderung siswa yang mempunyai kemampuan
tinggi mendominasi diskusi sehingga membuat minder siswa yang kemampuan rendah
C.
Pembelajaran Matematika
1.
Hakikat Pembelajaran Matematika
Pembelajaran
menurut Miarso, dkk mengutip dari Corey adalah “Suatu proses dimana lingkungan
seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam
kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu”.
Sedangkan menurut Ratna yang mengutip dari Gagne mendefinisikan pembelajaran
sebagai : “Seperangkat acara peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung
terjadinya beberapa proses belajar yang sifatnya internal”.
“Perkembangan kognitif manusia banyak dipengaruhi oleh lingkungannya dan
makhluk hidup akan beradaptasi dengan perubahan lingkungannya”[18].
Salah satu pengertian matematika yang
dikemukakan Pandoyo mengutip dari H.W. Fowlwer merupakan mata pelajaran yang
bersifat abstrak yang menuntut kemampuan siswa agar mengetahui keabstrakan mata
pelajaran tersebut, dari pernyataan tersebut menuntut guru agar dapat
mengupayakan metode yang sesuai dengan tingkatan atau karakteristik siswa.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran Matematika adalah proses
pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga peserta didik
memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari[19]. sedangkan
menurut peneliti pembelajaran matematika adalah proses mengajar yang bersifat
abstrak dan mengajari siswa menemukan pengalaman sehingga memperoleh kompetensi
matematika yang sebenarnya.
Salah satu kompetensi yang dapat membantu ketercapaian pembelajaran
matematika adalah strategi atau model yang digunakan sesuai dengan topik yang
dibicarakan, karakteristik siswa, tingkat perkembangan kecerdasan/intelektual
siswa, sesuai prinsip dan teori belajar, keterlibatan aktif siswa, keterkaitan dengan kehidupan
siswa sehari-hari, dan pengembangan dan pemahaman penalaran matematika.
Dari pengertian pembelajaran yang telah
diuraikan didukung oleh beberapa teori yaitu teori thorndike disebut sebagai
teori penyerapan, seorang siswa diumpamakan sebagai kertas putih dan bersih
yang belum ada tulisannya sehingga siswa siap menerima pengetahuan secara
pasif. Dalam teori ini berpegang pada prinsip menekankan banyak memberi praktik dan latihan (drill dan practice)
pada siswa, agar konsep dasar siswa dapat memahami lebih mendalam dan dapat
dikuasai dengan baik.
Disambung dengan teori ausubel mengemukakan
pentingnya kebermaknaan pembelajaran khususnya dalam mengajar pembelajaran
matematika. Pembelajaran yang bermakna mempunyai kelebihan tersendiri yang
lebih yaitu pembelajaran lebih menarik, lebih bermanfaat, dan lebih menantang.
Sehingga konsep dasar matematika yang mereka pelajari lebih mudah dipahami dan
lebih tahan lama diingat oleh siswa. Seiring dengan perkembangan strategi dari
berpusat pada guru menjadi berpusat pada
siswa maka berkembang pula cara pandang terhadap bagaimana siswa belajar dan
memperoleh pengetahuan.
Dalam perkembangan intelektual siswa, teori
Jean Piaget menyatakan bahwa kemampuan intelektual anak berkembangan secara bertingkat
atau bertahap yaitu Sensori motor (0-2 tahun), Pra-operasional, (2-7 tahun), Operasional konkret (7-11 tahun), Operasional > 11 tahun.
Pada kelas III SD/MI mereka masih berumur 7-8 tahunan, dalam teori
Jean Piaget umur 7-11 tahun masuk pada tahap operasional konkret. Pada tahap
ini anak mulai menyesuaikan diri dengan realistas konkrit dan sudah mulai
berkembang rasa ingin tahunya. Hal ini menunjukkan anak mampu melakukan tingkah
laku untuk menguji coba dan mempraktekkan suatu permasalahan.
2.
Tujuan Pembelajaran Matematika
Mata
pelajaran matematika diajarkan di sekolah bertujuan agar peserta didik memiliki
kemampuan sebagai berikut [20]:
a.
Memahami konsep matematika, menjelaskan
keterkaitan antara konsep dan mengaplikasi konsep atau logaritma secara luwes,
akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah
b.
Menggunakan penataran pada pola dan sifat
tepat pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membentuk
generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan
matematika.
c.
Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan
memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model matematika
dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
d.
Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol,
tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
e.
Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika
dalam kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam
mempelajari matematika secara ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
- Ciri – Ciri Pembelajaran Matematika di Tingkat Dasar
Ciri-ciri
pembelajaran matematika di tingkat dasar adalah sebagai berikut :
a.
Pembelajaran matematika menggunakan metode
spiral.
Pendekatan
spiral dalam pembelajaran metematika merupakan pendekatan dimana pembelajaran
konsep atau suatu topik matematika selalu mengaitkan atau mengaitkan dengan
sebelumnya.
b.
Pembelajaran matematika bertahap.
Materi
pembelajaran matematika diajarkan secara bertahap yaitu dimulai dari
konsep-konsep yang sederhana, menuju konsep yang lebih sulit.
c.
Pembelajaran matematika menggunakan metode
induktif.
Matematika
merupakan ilmu deduktif. Namun karena sesuai tahap perkembangan mental siswa
maka pada pembelajaran matematika di SD digunakan pendekatan induktif Pembelajaran
matematika menganut kebenaran konsistensi. Kebenaran
matematika merupakan kebenaran yang konsisten artinya tidak ada pertentangan
antara kebenaran yang satu dengan yang lainnya.
d.
Pembelajaran matematika bermakna.
Pembelajaran
secara bermakna merupakan cara pengajaran materi pembelajaran yang mengutamakan
pengertian
daripada hafalan.
- Prinsip Cara Belajar Matematika
Menurut
lisnawaty, prinsip cara belajar matematika pada peserta didik adalah[21].
a.
Setiap konsep baru, selalu diperkenalkan
melalui kerja praktek yang cukup
b.
Kerja praktek merupakan bagian dari
keseluruhan pengajaran matematika
c.
Dengan kerja praktek, pengalaman peserta
didik akan bertambah
d.
Pengenalan konsep baru dalam praktek kerja
harus dilakukan berulang kali dengan bervariasi
e.
Pemberian kesempatan untuk mengemukakan
pertanyaan dan hasil penemuan bagi peserta didik perlu diberikan
f.
Mempergunakan pengalaman sehari-hari dalam
pengajaran matematika
g.
Kegiatan penilaian / evaluasi jangan hanya
melihat dari hasil yang dikerjakan peserta didik, tetapi juga harus dilihat
dari proses kegiatan pembelajaran dan keaktifan dalam bekerja.
5.
Perkalian
Perkalian adalah operasi
matematika
penskalaan satu bilangan dengan bilangan lain. Operasi ini adalah salah satu
dari empat operasi dasar di dalam aritmetika
dasar.
Perkalian disebut juga dengan penjumlahan
berulang, seperti ” 3x4” berarti
“4+4+4” sedangkan “4x3” diartikan
sebagai “3+3+3+3”. Berarti untuk mencari hasil dari “a x b” sama halnya dengan
cara menunjukkan penjumlahan “ b+b+b …..” sebanyak a kali.
Di SD kelas III
perkalian yang diajarkan adalah perkalian dengan hasil sampai dengan 100. Itu
berarti objek yang dikalikan adalah bilangan 1 sampai dengan 50 sedangkan
penggalinya adalah bilangan-nilangan dari 1 sampai dengan 10. Urutan
Perkalian sebagai sifat operasi hitung, didalamnya ada 2 sifat
operasi yaitu:
a.
a x b
= b x
a
|
contoh
: 4 x 3 = 3 x 4
12 = 12
( a x b ) x c = a
x ( b x c )
|
Contoh : menurut sifat
pengelompokan pada perkalian, maka hasil perkalian akan tetap sama jika
dikerjakan dari mana saja.
(2 x
3) x 5 = 2 x (3 x 5)
6
x 5 = 2 x 15
30 = 30
Jadi,
(2 x 3) x 5 = 2 x (3 x 5)
Setelah
mengetahui sifat operasi perkalian, bahasan selanjunya adalah cara mengalikan
perkalian satu angka dengan dua angka. Disini peneliti menjelaskan 3 cara
perkalian :
a.
Mengalikan
dengan cara mendatar
Contoh : 3 x 14
3 x 14 = 3 x ( 10 + 4)
=
( 3 x 10 ) + ( 3 x 4)
= 30
+ 12
= 42
b.
Perkalian
dengan cara bersusun panjang
Contoh
: 24 x 3
Cara
Penyelesaian:
24
3 x
12
(3 × 4) satuan × satuan
60
x (3 × 20) satuan × puluhan
72
Jadi, 24 × 3 = 72
c.
Perkalian
dengan cara bersusun pendek
Contoh :
Pelajarilah langkah-langkah perkalian dengan cara bersusun pendek
berikut ini!
24
x 6
Cara Penyelesaian:
24
6
x
144
dari 4 × 6 = 24, ditulis 4, simpan 2
dari (6 × 2) + 2 (simpanan), ditulis 14
Jadi, 24 × 6 = 144
D.
Peningkatan Prestasi Belajar dengan Model Pembelajaran kooperatif
tipe Number Head Together (NHT)
Terdapat dasar teoritis yang kuat untuk memprediksi bahwa model
pembelajaran kooperatif yang menggunakan tujuan kelompok dan tanggung jawab
individual akan meningkatkan pencapaian prestasi siswa, salah satunya yaitu Number Head Together (NHT). Walaupun demikian, sangat penting untuk melakukan penilaian atas
metode-metode pembelajaran kooperatif ini secara langsung di dalam kelas pada
saat periode realistis pengajaran langsung, untuk menentukan apakah memang
memberikan pengaruh pada ukuran pencapaian prestasi di sekolah atau tidak.
namun model pembelajaran Number Head Together (NHT) ini
secara konsisten terlihat positif dalam semua pelajaran, dengan hasil yang
mengejutkan untuk mata pelajaran matematika.
Hasil daripada Model pembelajaran ini dibuktikan dengan
meningkatnya minat siswa untuk megerjakan suatu pelajaran secara bersama-sama,
karena dengan kebersamaan tersebut tidak ada lagi yang di khawatirkan dalam
mengerjakan suatu pelajaran, siswa akan saling membantu dan saling memanfaatkan
satu dengan yang lainnya untuk mencari kebenaran suatu jawaban, selain itu
metode Number Head Together (NHT) juga di dukung
oleh beberapa teori yang sudah teruji seperti Teori Piaget Konstruktivism
Kognitif yang berasaskan Premis yang mengutamakan kerjasama secara berkelompok
untuk mewujudkan keseimbangan kognitif.
[1] Risa, Aguatin.
Kamus Ilmiah Populer. (Surabaya : Serba Jaya, 2005), 431
[2]
http://lenterakecil.com/definisi-belajar-menurut-beberapa-psikolog/
[3]
Abu Muhammad Ibnu Abdullah. Prestasi Belajar, 2008 (Online)
(http://spesialis-torch.com. diakses pada tanggal 5 juni 2012
[4] ibid
[5] Agus, Suprijono.
Cooperative Learning. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010)
[6] Slameto.
Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya.( Jakarta: Rineka Cipta.2003),
56
[10] Isjoni. Cooperatif Learning (Efektifitas Pembelajaran Kelompok). (Bandung : Alfabeta, 2011) ,15
[12] Suryanti, dkk. Model-Model Pembelajaran Inovatif. (Surabaya : Unesa University Press, 2009), 15
[13] Isjoni. Cooperatif Learning (Efektifitas Pembelajaran Kelompok). (Bandung : Alfabeta. 2011), 35-39
[14] Bambang, Sugiarto. Mengajar Siswa Belajar (Implementasi Guru di Dalam
Kelas). (Surabaya : Unesa University Press, 2009), 48-49
[16] http://www.sarjanaku.com/2011/01/pembelajaran-kooperatif-tipe-jigsaw.html. diakses pada tanggal 07 juni 2012
[17] Suryanti, dkk. Model-Model Pembelajaran Inovatif . (Surabaya : Unesa University Press, 2009), 19
[18] Sumantri, Mulyani dan Syaodih, Nana. Perkembangan Peserta didik. (Jakarta: Universitas Terbuka, 2009), 2.6
[20] Tim
konsorsium 3 PTAI, matematika I (Surabaya, IAIN Sunan Ampel), 32.
[21] Lisnawaty
simanjuntak, metode mengajar matematika,(Jakarta: Rineka Cipta, 1993),
81
0 komentar:
Post a Comment