Friday, November 16, 2012

PTK Matematika



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk kemajuan bangsa, maka dari itu pemuda sebagai penerus bangsa sangat membutuhkan pendidikan untuk menunjang dan mengembangkan potensinya. Definisi Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat[1].
Tujuan pada pendidikan dasar menekankan pada dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta ketrampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Salah satu komponen untuk mencapai tujuan tersebut adalah pembelajaran matematika tingkat sekolah dasar.
Pada pelajaran matematika masih banyak hasil prestasi siswa yang menurun dikarenakan siswa belum memahami dan mendalami konsep dasar matematika seperti perkalian, perkalian dalam pembelajaran matematika sangat diperlukan dan dibutuhkan, karena setiap pembelajaran matematika perkalian akan digunakan dalam setiap tingkat dalam pembelajaran matematika dan pembaharuan sistem mengajar yang belum diterapkan di sekolah, sehingga siswa merasa jenuh dan hasil prestasi belajar mereka menurun. Banyak faktor yang membuat hasil prestasi belajar siswa menurun dikarenakan kurangnya minat siswa dalam mengikuti pembelajaran, kurangnya kekreatifan guru, strategi kurang tepat, sarana prasarana yang kurang memadai serta faktor keluarga dan lingkungan yang kurang mendukung. Oleh karena itu, seorang guru harus mencoba membuat siswa lebih tertarik didalam proses pembelajaran khususnya pembelajaran matematika, dan meningkatkan hasil prestasi belajar pada siswa.
Pada penelitian ini peneliti memilih pelajaran matematika karena pada mata pelajaran ini banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam  pelajaran matematika yang merupakan pelajaran inti yang harus dipahami siswa.  Pelajaran matematika sangat dibutuhkan oleh suatu Negara karena jatuh bangunnya suatu Negara tergantung dari kemajuan di bidang matematika. Oleh karena itu sebagai langkah awal untuk mengarah pada tujuan yang diharapkan adalah mendorong dan memotivasi masyarakat khususnya peserta didik supaya mampu bernalar dan  berpikir kritis, logis, dan sistematis[2]. Kemudian mengembangkan ketrampilan siswa tersebut adalah salah satu solusi untuk mengembangkan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT). Model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) ini mengutamakan pada kesadaran siswa agar belajar untuk mengembangkan pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan dalam suasana belajar yang demokratis dan terbuka. Siswa yang lebih mampu dari siswa lainnya dapat menjadi tutor dan menjadi ketua dalam sebuah kelompok, jadi siswa yang prestasinya tinggi dapat membantu siswa yang berprestasi rendah[3].
Berdasarkan pengamatan saya di MI Mubtadi’ul Ulum kesamben jombang kurikulum yang digunakan sekolah adalah kurikulum KTSP namun pada realitanya masih banyak guru yang hanya menggunakan metode ceramah dengan alasan metode tersebut lebih praktis dan relatif serta tidak menghabiskan waktu yang terlalu banyak. Namun hasil yang diperoleh dari metode tersebut, Nilai matematika yang diperoleh  siswa kelas III  masih relatif rendah. Selain itu kurangnya minat siswa dalam mempelajari matematika, faktor keluarga dan lingkungan yang kurang mendukung, kurang menguasai materi dasar dalam pembelajaran matematika dan kurang latihan mengerjakan soal-soal di rumah. Hal ini ternyata juga mempengaruhi hasil belajar siswa dalam pelajaran matematika, karena itu dalam menyelesaikan soal-soal matematika terutama perkalian, masih banyak siswa yang belum hafal dan masih melihat catatan perkalian.
Pentingnya kompetensi ini jika tidak diiringi dengan kepahaman dan prestasi belajar siswa yang semakin meningkat yang dapat diketahui setelah guru memberi tes untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa mengenai perkalian yang mereka pelajari pada pembelajaran sebelumnya. Hal tersebut dapat dilihat dalam suatu tes perkalian antara 2 dan 9 sebagai berikut :
a.       2x5.. 2x6.. 2x7.. 2x8…
b.      9x5.. 9x6.. 9x7.. 9x8..
Dari 25 siswa yang  mengikuti tes tersebut, hasilnya 5 siswa (20%) memberikan jawaban tepat dan 20 siswa (80%) belum mampu memberikan jawaban yang tepat.
Dari hasil tes diatas peneliti mempunyai 2 solusi untuk memecahkan problem tersebut, pertama melalui model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) dan yang kedua melalui media LKS, dari dua solusi tersebut siswa yang mengetahui konsep dasar perkalian serta  matang dalam materi perkalian dapat membantu siswa yang lain yang belum bisa memahami perkalian. Kebetulan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) ini belum pernah diterapkan di kelas III MI Mubtadiul ulum.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti mengadakan penelitian tindak kelas dengan judul Peningkatan Prestasi Belajar Perkalian dengan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Number Head Together (NHT) Pada Mata Pelajaran Siswa Kelas III MI Mubtadi’ul Ulum Kesamben Jombang “. Dengan harapan metode Number Head Together (NHT) dapat membantu meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pelajaran matematika materi perkalian di MI Mubtadiul Ulum khususnya kelas III.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat ditemukan rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) pada kelas III MI Mubtadi’ul Ulum kesamben jombang ?
2.      Bagaimana respon siswa dalam pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) pada kelas III MI Mubtadi’ul Ulum kesamben jombang?
3.      Bagaimana prestasi siswa dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) pada kelas III MI Mubtadi’ul Ulum kesamben jombang?

C.    Tindakan yang dipilih
Tindakan yang dipilih untuk memecahkan masalah tentang rendahnya hasil belajar siswa yang meliputi berfikir, pemecahan masalah, kemampuan bertanya, sikap, dan keaktifan dalam mengikuti pembelajaran matematika adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT).

D.    Tujuan
 Dari rumusan masalah diatas, tujuan Penelitian Tindak Kelas ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mendeskripsikan aktivitas dalam pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) pada kelas III MI Mubtadi’ul Ulum kesamben jombang
2.      Untuk meningkatkan respon siswa dalam pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) pada kelas III MI Mubtadi’ul Ulum kesamben jombang
3.      Untuk meningkatkan prestasi siswa dalam pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) pada kelas III MI Mubtadi’ul Ulum kesamben jombang

E.     Lingkup penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah, seperti kurangnya sarana pendukung belajar, prestasi belajar rendah, serta guru yang merasa kurang kreatif dalam mengajar, maka pembatasan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana upaya peningkatan prestasi belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) pada materi perkalian mata pelajaran matematika kelas III MI Mubtadi’ul Ulum Kesamben Jombang.


F.     Manfaat
Manfaat pada guru adalah guru dapat lebih variatif dalam memilh strategi yang sesuai dengan indikator yang dicapai, serta dapat meningkatkan kekurangan guru dalam proses pembelajaran.
Manfaat bagi siswa adalah siswa dapat belajar dengan aktif, kreatif, efektif, menyenangkan dan mendapat pengalaman baru. Sehingga prestasi belajar siswa lebih meningkat.
Manfaat bagi sekolah adalah sekolah dapat menjadi lebih maju karena siswa dan guru sama-sama mempunyai kompetensi yang tinggi dalam pembelajaran
Manfaat bagi peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) ini akan mempermudah peneliti dalam mengajarkan pelajaran matematika pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung, selain itu diharapkan menjadi bahan rujukan dan pertimbangan bagi peneliti yang lain, yang ingin meneliti dengan topik dan obyek yang sama.


BAB II
KAJIAN TEORI
A.       Prestasi Belajar
1.   Pengertian Prestasi Belajar
 Istilah prestasi belajar terdiri dari dua suku kata, yaitu prestasi dan belajar. Istilah prestasi sebagai hasil yang telah dicapai[1]. Salah satu pakar pendidikan yaitu Morgan mengatakan bahwa belajar merupakan perubahan prilaku yang bersifat permanen sebagai hasil dari pengalaman.
Beberapa definisi belajar menurut beberapa ahli psikologi yaitu[2] :
a.       Arno F. Wittig dalam Psichology of Learning : 1981. Belajar adalah perubahan yang permanen terjadi dalam segala macam tingkah laku suatu organisme sebagai hasil belajar.
b.      James Patrick Chaplin dalam Dictionary of Psychology: 1985. Belajar dibatasi dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama Belajar atasi dalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan kedua Belajar ialah proses memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus.
c.       Hintzman, Douglas L. dalam The Psychology of Learning and Memory. Belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme, manusia atau hewan, disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.
Sedangkan menurut pendapat beberapa pakar  dalam pengertian belajar, di antaranya adalah sebagai berikut[3]:
a. W.S. Winkel dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pengajaran. Menurutnya, pengertian belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai-nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berbekas”.
b.   S. Nasution MA mendefinisikan belajar sebagai perubahan kelakuan, pengalaman dan latihan. Jadi belajar membawa suatu perubahan pada diri individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya mengenai sejumlah pengalaman, pengetahuan, melainkan juga membentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, minat, penyesuaian diri. Dalam hal ini meliputi segala aspek organisasi atau pribadi individu yang belajar.
Dari beberapa pendapat belajar dari berbagai pakar pendidikan dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku yang bersifat permanen yang dipengaruhi oleh proses interaksi dengan lingkungannya.
Adapun yang dimaksud dengan prestasi belajar menurut Muhibbin Syah adalah tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu[4].
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah “penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru”.
Berdasarkan asumsi-asumsi di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan tujuan pembelajaran yang dicapai dari suatu kegiatan atau usaha yang dapat memberikan kepuasan emosional dan dapat diukur dengan alat atau tes tertentu.
Adapun dalam penelitian ini yang dimaksud prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan peserta didik dalam memahami materi, tingkat penguasaan materi, perubahan emosional, atau perubahan tingkah laku yang dapat diukur dengan tes tertentu dan diwujudkan dalam bentuk nilai atau skor setelah menempuh proses pembelajaran.

2. Indikator-indikator dalam Prestasi Belajar
Menurut dari Bloom, hasil belajar atau prestasi belajar mencakup 3 kemampuan  yaitu : kognitif, afektif, dan psikomotor peserta didik[5]. Dapat dilihat tabel dibawah ini, menjelaskan 3 kemampuan tersebut beserta indikator yang harus dicapai .
No.
Jenis Prestasi
Indikator prestasi belajar
1)   
Ranah cipta (kognitif)
a.       Knowledge
b.      Comprehension
c.       Application
d.      Analysis
e.       Syintesis
f.       Evaluation

Ø  Dapat menjelaskan
Ø  Dapat mendefinisikan dengan lisan sendiri
Ø  Dapat memberikan contoh
Ø  Dapat menggunakan secara tepat
Ø  Dapat menguraikan
Ø  Dapat mengklasifikasikan/memilah-milah
Ø  Dapat menghubungkan
Ø  Dapat menyimpulkan
Ø  Dapat menggeneralisasikan (membuat prinsip umum)

2)   
Ranah Rasa (Afektif)
a.      Receiving (Sikap menerima)
b.      Responding (Member respons)
c.      Valuing (Nilai)
d.     Organization (Organisasi)
e.      Characterization (karakterisasi)

Ø  Mengingkari
Ø  Melembagakan atau meniadakan
Ø  Menjelmakan dalam pribadi dan perilaku sehari-hari)


3)   
Ranah Karsa (Psikomotor)
a.       Keterampilan bergerak dan bertindak
b.      Kecakapan ekspresi verbal dan nonverbal

Ø  Mengkoordinasikan gerak mata, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya
Ø  Mengucapkan
Ø  Membuat mimik dan gerakan jasmani

     Dari tabel diatas sudah cukup jelas bahwa dalam prestasi belajar harus dapat mengembangkan 3 kemampuan tersebut yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
Dalam prestasi belajar Pengukuran Intelegensi (IQ) merupakan tolak ukur dari prestasi belajar, kesuksesan dalam prestasi belajar tergantung dari IQ, IQ disini sangat berperan penting dalam prestasi belajar. Namun ada beberapa kasus yang membuktikan bahwa IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin kesuksesan dalam belajar dan hidup bermasyarakat. Dari pernyataan itu dapat disimpulkan bahwa IQ bukan satu-satunya mengukur dan mengembangkan prestasi belajar.
Faktor-faktor lain yang ikut serta mempengaruhi prestasi belajar yaitu menurut pandangan Muhibbin Syah faktor yang mempengaruhi prestasi belajar menjadi tiga bagian, yaitu :
a.       Faktor-faktor intern
Faktor yang ada didalam dirinya sendiri yang dapat mempengaruhi prestasi belajar, antara lain adalah :
1)   Faktor fisiologis
Yaitu faktor kesehatan fisik yang kuat akan memberi keuntungan dan hasil belajar yang baik. Begitu sebaliknya keadaan yang kurang baik akan berpengaruh pada hasil belajar.
2)   Faktor psikologis
Dalam faktor psikologis yang mempengaruhi hasil belajar dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :
a)      Intelegensi, faktor ini mengutamakan prestasi belajar tergantung pada IQ yang dimiliki seseorang. Slameto mengatakan bahwa “tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah[6].”
b)      Perhatian, Menurut al-Ghazali bahwa perhatian adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi jiwa itupun bertujuan semata-mata kepada suatu benda atau hal atau sekumpulan obyek[7]. Disini peneliti mengambil pengertian perhatian adalah perhatian yang terarah akan menghasilkan pemahaman dan kemampuan yang mantap.
c)      Minat, Slameto mengemukakan bahwa minat adalah “kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan, kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus yang disertai dengan rasa sayang.[8]” peneliti mengemukakan bahwa minat adalah keinginan yang tinggi terhadap sesuatu yang dimiliki seseorang.
d)     Bakat Menurut Hilgard adalah the capacity to learn. Dengan kata lain, bakat adalah kemampuan untuk belajar[9].dari asumsi itu bakat merupakan kemampuan, potensi, ketrampilan yang dimiliki seseorang dalam menyongsong masa yang akan datang.
e)      Motivasi, dorongan seseorang dalam meraih prestasi setinggi mungkin

b.      Faktor-faktor ekstern
Yaitu faktor yang memepengaruhi dari luar diri seseorang
Faktor yang ada diluar dirinya sendiri yang dapat mempengaruhi prestasi belajar, antara lain adalah :
1)      Faktor sosial
Yang meliputi faktor sosial adalah:
Lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat
2)      Faktor non sosial 
Yang meliputi faktor non sosial adalah :
keadaan dan letak gedung sekolah, keadaan dan letak rumah tempat tinggal keluarga, alat-alat dan sumber belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa.
c.    Faktor pendekatan belajar
Faktor yang mempengaruhi prestasi dalam sistem pengajaran seperti metode, pendekata, dan strategi yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
     Dan untuk lebih jelasnya dan memudahkan memahaminya peneliti menjelaskan dengan skema hubungan tersebut :

PRESTASI
BELAJAR
Faktor Ekstern :
1.   Faktor sosial
a.       Lingkungan keluarga
b.      Lingkungan sekolah
c.       Lingkungan masyarakat
2.   Faktor non sosial
a.       Rumah
b.      Gedung sekolah
c.       Alat dan sumber belajar
d.      Iklim/cuaca
e.       Waktu belajar

Faktor intern :
1.   Faktor fisiologi
a.    Kesehatan tubuh
2.   Faktor Psikologi
a.    Intelegensi
b.   Perhatian
c.    Minat
d.   Bakat
e.    Motivasi
 


    
Faktor-faktor pendekatan belajar :
a.    Metode belajar
b.   Strategi belajar
  
 B.     Pembelajaran Kooperatif
1.   Pengertian pembelajaran kooperatif 
Pembelajaran kooperatif Menurut Isjoni mengutip dari Slavin adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar[10].
Sedangkan johnson mengemukakan pembelajaran kooperatif adalah pemanfaatan kelompok kecil untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok itu[11]. Dan ada beberapa pakar-pakar yang memberi sumbangan pemikiran bagi pengembangan  model pembelajaran kooperatif adalah John dewey dan Herbert Thelan. Menurut Dewey kelas seharusnya merupakan cerminan masyarakat yang lebih besar. Thelan telah mengembangkan prosedur yang tepat untuk membantu para siswa bekerja sama secara berkelompok[12].
Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Model pembelajaran kooperatif  adalah salah satu model yang mengutamakan kerja sama antar siswa, sehingga guru dapat sekaligus memberi pelajaran bahwa manusia merupakan makhluk sosial yaitu makhluk yang membutuhkan interaksi antar sesamanya.
Model ini berlandaskan pada tiga teori yaitu[13]:
a.       Teori Ausubel
David Ausubel adalah seorang ahli psikolog pendidikian. Menurut Ausubel bahan pelajaran yang dipelajari haruslah bermakna. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
b.      Teori Piaget
Teori ini mengacu kepada kegiatan pembelajaran yang harus melibatkan partisipasi peserta didik. Dalam teori ini siswa lebih banyak terlibat dalam pembelajaran sedangkan guru hanya menjadi fasilitator.
c.       Teori Vygotsky
Vygotsky  mengemukakan pembelajaran merupakan suatu perkembangan pengertian. Ia membedakan adanya dua pengertian yang spontan dan yang ilmiah.
Dari teori tersebut dapat diketahui bahwa Hal yang terpenting dalam pembelajaran kooperatif adalah bahwa siswa dapat belajar dengan cara bekerja sama dengan teman[14]. Para siswa dapat memanfaatkan pembelajaran ini memberi kesempatan untuk bersosialisasi. Teman yang mempunyai kemampuan lebih dapat membantu siswa yang mempunyai kemampuan yang lemah dan setiap anggota dapat memberi sumbangan pada prestasi kelompok. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan ketrampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Pada hakekatnya pembelajaran kooperatif sama dengan kerja kelompok, walaumpun pembelajaran kooperatif terjadi dalam bentuk kelompok, tetapi tidak setiap kerja kelompok dikatakan pembelajaran kooperatif.
Bennet menyatakan ada lima unsur dasar yang dapat membedakan pembelajaran kooperatif dengan kerja kelompok, yaitu[15] :
1.   Positive interdepedence (saling ketergantungan positif)
2.   Interaction face to face
3.   Adanya tanggung jawab pribadi mengenai materi pelajaran dalam anggota kelompok
4.   Membutuhkan keluwesan
5.   Meningkatkan ketrampilan bekerja sama dalam memecahkan masalah (proses kelompok)
Adapun karakteristik pembelajaran kooperatif adalah :
a.    Siswa dapat bekerja kelompok untuk menuntaskan materi belajar
b.   Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan atau ketrampilan tinggi, sedang, dan rendah
c.    Mungkin bisa anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, dan jenis kelamin yang berbeda.
d.   Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu
Dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi siswa atau peserta didik juga harus mempelajari ketrampilan-ketrampilan khusus yang disebut ketrampilan kooperatif. Ketrampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Tujuan penting dalam pembelajaran kooperatif adalah untuk mengajarkan kepada siswa ketrampilan kerjasama dan kolaborasi.
Sedangkan menurut Linda Lungreng ada beberapa manfaat pembelajaran kooperatif bagi siswa dengan prestasi yang rendah, yaitu[16] :
  1. Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas
  2. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
  3. Memperbaiki sikap terhadap IPA dan sekolah
  4. Memperbaiki kehadiran 
  5. Angka putus sekolah menjadi rendah
  6. Penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar
  7. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil
  8. Konflik antar pribadi berkurang
  9. Sikap apatis berkurang
  10. Pemahaman yang lebih mendalam
  11. Motivasi lebih besar
  12. Hasil belajar lebih tinggi 
  13. Retensi lebih lama
  14. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif memudahkan siswa dalam memahami konsep pembelajaran dalam bentuk kerja kelompok, karena disini siswa lebih berperan aktif dalam kelompok kecil dan mengajarkan siswa untuk bersosialisasi.

2.   Sintaks Model Pembelajaran kooperatif
              Dalam langkah-langkah pembelajaran kooperatif ini peneliti menyajikan dalam bentuk tabel dibawah ini[17].
Fase
Perilaku Guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase 2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase 3
Mengorganisasi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap agar melakukan transisi secara efisien.
Fase 4
Membimbing kelompok belajar dan bekerja
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase 5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase 6
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

3.      Pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT)
Pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi interaksi siswa dalam memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan isi akademik.  Number Head Together (NHT) merupakan suatu pendekatan yang diembangkan oleh Spencer Kagen untuk melibaqtkan para siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran tersebut. Sebagai ganti pertanyaan untuk seluruh kelas, guru menggunakan empat langkah seperti berikut :
a.       Penomoran
Guru memberi siswa kedalam kelompok yang berangotakan 5-6 orang dan masing-masing siswa mendapat nomor antara 1-6
b.      Pengajuan pertanyaan
Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa
c.       Berpikir bersama
Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan tersebut
d.      Pemberian jawaban
Guru memanggil satu nomor tertentu, kemudian siswa yang mendapat nomor yang telah disebut guru menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.

Langkah-langkah tersebut dikembangkan menjadi enam langkah sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan penelitian ini. Keenam langkah tersebut adalah sebagai berikut :
Sintaks model pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT)
Fase

Fase 1
Persiapan
guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Fase 2
Pembentukan Kelompok
Guru membentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 4 sampai 5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda.
Fase 3
Diskusi Masalah
Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok sebagai bahan yang akan dipelajari dan dikerjakan bersama kelompok
Fase 4
Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban
menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
Fase 5
Memberi kesimpulan
Guru memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.
Fase 6
Memberi penghargaan
guru memberikan penghargaan berupa kata-kata pujian pada siswa dan memberi nilai yang lebih tinggi kepada kelompok yang hasil belajarnya lebih baik.

4.      Kelebihan dan kekurangan pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT)
            Kelebihan pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) sebagai berikut :
a.       Setiap siswa menjadi siap semua
b.      Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh
c.       Siswa yang kemampuannya tinggi dapat mengajari siswa yang kemampuannya  rendah
            Kekurangan pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT) sebagai berikut :
a.       Kemungkinan nomor yang sudah dipanggil dipanggil lagi
b.      Kesulitan dalam menata tempat duduk
c.       Cenderung siswa yang mempunyai kemampuan tinggi mendominasi diskusi sehingga membuat minder siswa yang kemampuan rendah

C.    Pembelajaran Matematika
1.      Hakikat Pembelajaran Matematika
                        Pembelajaran menurut Miarso, dkk mengutip dari Corey adalah “Suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu”. Sedangkan menurut Ratna yang mengutip dari Gagne mendefinisikan pembelajaran sebagai :  Seperangkat acara peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung terjadinya beberapa proses belajar yang sifatnya internal.
 Perkembangan kognitif manusia banyak dipengaruhi oleh lingkungannya dan makhluk hidup akan beradaptasi dengan perubahan lingkungannya[18].
Salah satu pengertian matematika yang dikemukakan Pandoyo mengutip dari H.W. Fowlwer merupakan mata pelajaran yang bersifat abstrak yang menuntut kemampuan siswa agar mengetahui keabstrakan mata pelajaran tersebut, dari pernyataan tersebut menuntut guru agar dapat mengupayakan metode yang sesuai dengan tingkatan atau karakteristik siswa.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran Matematika adalah proses pemberian pengalaman belajar kepada peserta didik melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga peserta didik memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari[19].  sedangkan menurut peneliti pembelajaran matematika adalah proses mengajar yang bersifat abstrak dan mengajari siswa menemukan pengalaman sehingga memperoleh kompetensi matematika yang sebenarnya.
Salah satu kompetensi yang dapat membantu ketercapaian pembelajaran matematika adalah strategi atau model yang digunakan sesuai dengan topik yang dibicarakan, karakteristik siswa, tingkat perkembangan kecerdasan/intelektual siswa, sesuai prinsip dan teori belajar, keterlibatan aktif siswa, keterkaitan dengan kehidupan siswa sehari-hari, dan pengembangan dan pemahaman penalaran matematika.
Dari pengertian pembelajaran yang telah diuraikan didukung oleh beberapa teori yaitu teori thorndike disebut sebagai teori penyerapan, seorang siswa diumpamakan sebagai kertas putih dan bersih yang belum ada tulisannya sehingga siswa siap menerima pengetahuan secara pasif. Dalam teori ini berpegang pada prinsip menekankan banyak memberi praktik dan latihan (drill dan practice) pada siswa, agar konsep dasar siswa dapat memahami lebih mendalam dan dapat dikuasai dengan baik.
Disambung dengan teori ausubel mengemukakan pentingnya kebermaknaan pembelajaran khususnya dalam mengajar pembelajaran matematika. Pembelajaran yang bermakna mempunyai kelebihan tersendiri yang lebih yaitu pembelajaran lebih menarik, lebih bermanfaat, dan lebih menantang. Sehingga konsep dasar matematika yang mereka pelajari lebih mudah dipahami dan lebih tahan lama diingat oleh siswa. Seiring dengan perkembangan strategi dari berpusat pada guru  menjadi berpusat pada siswa maka berkembang pula cara pandang terhadap bagaimana siswa belajar dan memperoleh pengetahuan.
Dalam perkembangan intelektual siswa, teori Jean Piaget menyatakan bahwa kemampuan intelektual anak berkembangan secara bertingkat atau bertahap yaitu  Sensori motor (0-2 tahun), Pra-operasional, (2-7 tahun), Operasional konkret (7-11 tahun), Operasional > 11 tahun.
Pada kelas III SD/MI mereka masih berumur 7-8 tahunan, dalam teori Jean Piaget umur 7-11 tahun masuk pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini anak mulai menyesuaikan diri dengan realistas konkrit dan sudah mulai berkembang rasa ingin tahunya. Hal ini menunjukkan anak mampu melakukan tingkah laku untuk menguji coba dan mempraktekkan suatu permasalahan.

2.      Tujuan Pembelajaran Matematika
Mata pelajaran matematika diajarkan di sekolah bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut [20]:
a.       Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antara konsep dan mengaplikasi konsep atau logaritma secara luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah
b.      Menggunakan penataran pada pola dan sifat tepat pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membentuk generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
c.       Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model matematika dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
d.      Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
e.       Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika secara ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

  1. Ciri – Ciri Pembelajaran Matematika di Tingkat Dasar
Ciri-ciri pembelajaran matematika di tingkat dasar adalah sebagai berikut :
a.          Pembelajaran matematika menggunakan metode spiral.
Pendekatan spiral dalam pembelajaran metematika merupakan pendekatan dimana pembelajaran konsep atau suatu topik matematika selalu mengaitkan atau mengaitkan dengan sebelumnya.
b.         Pembelajaran matematika bertahap.
Materi pembelajaran matematika diajarkan secara bertahap yaitu dimulai dari konsep-konsep yang sederhana, menuju konsep yang lebih sulit.
c.          Pembelajaran matematika menggunakan metode induktif.
Matematika merupakan ilmu deduktif. Namun karena sesuai tahap perkembangan mental siswa maka pada pembelajaran matematika di SD digunakan pendekatan induktif Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi. Kebenaran matematika merupakan kebenaran yang konsisten artinya tidak ada pertentangan antara kebenaran yang satu dengan yang lainnya.
d.         Pembelajaran matematika bermakna.
Pembelajaran secara bermakna merupakan cara pengajaran materi pembelajaran yang mengutamakan pengertian daripada hafalan.

  1. Prinsip Cara Belajar Matematika
Menurut lisnawaty, prinsip cara belajar matematika pada peserta didik adalah[21].
a.       Setiap konsep baru, selalu diperkenalkan melalui kerja praktek yang cukup
b.      Kerja praktek merupakan bagian dari keseluruhan pengajaran matematika
c.       Dengan kerja praktek, pengalaman peserta didik akan bertambah
d.      Pengenalan konsep baru dalam praktek kerja harus dilakukan berulang kali dengan bervariasi
e.       Pemberian kesempatan untuk mengemukakan pertanyaan dan hasil penemuan bagi peserta didik perlu diberikan
f.       Mempergunakan pengalaman sehari-hari dalam pengajaran matematika
g.      Kegiatan penilaian / evaluasi jangan hanya melihat dari hasil yang dikerjakan peserta didik, tetapi juga harus dilihat dari proses kegiatan pembelajaran dan keaktifan dalam bekerja.


5.      Perkalian
            Perkalian adalah operasi matematika penskalaan satu bilangan dengan bilangan lain. Operasi ini adalah salah satu dari empat operasi dasar di dalam aritmetika dasar. Perkalian disebut juga dengan penjumlahan berulang, seperti ” 3x4”  berarti “4+4+4”  sedangkan “4x3” diartikan sebagai “3+3+3+3”. Berarti untuk mencari hasil dari “a x b” sama halnya dengan cara menunjukkan penjumlahan “ b+b+b …..” sebanyak a kali.
            Di SD kelas III perkalian yang diajarkan adalah perkalian dengan hasil sampai dengan 100. Itu berarti objek yang dikalikan adalah bilangan 1 sampai dengan 50 sedangkan penggalinya adalah bilangan-nilangan dari 1 sampai dengan 10. Urutan
Perkalian sebagai sifat operasi hitung, didalamnya ada 2 sifat operasi yaitu:
a.   
a  x  b  =  b  x  a
Sifat Pertukaran dalam perkalian (komutatif)

contoh :  4 x 3       =          3 x 4
                  12        =             12
( a x b ) x c  =  a  x  ( b x c )
b.  Sifat Pengelompokan perkalian (asosiatif)
           
        Contoh : menurut sifat pengelompokan pada perkalian, maka hasil perkalian akan tetap sama jika dikerjakan dari mana saja.
                        (2 x 3) x 5        =          2 x (3 x 5)
                             6 x 5            =                2 x 15
                                30             =                   30
                        Jadi, (2 x 3) x 5 = 2 x (3 x 5)
                             Setelah mengetahui sifat operasi perkalian, bahasan selanjunya adalah cara mengalikan perkalian satu angka dengan dua angka. Disini peneliti menjelaskan 3 cara perkalian :
a.       Mengalikan dengan cara mendatar
Contoh :  3 x 14
                 3 x 14  = 3 x ( 10 + 4)
                             = ( 3 x 10 ) + ( 3 x 4)   
                             =      30       +      12
                             =     42
b.      Perkalian dengan cara bersusun panjang
Contoh :  24 x 3

Cara Penyelesaian:
24
  3  x
12                    (3 × 4) satuan × satuan
60  x                 (3 × 20) satuan × puluhan
72
                       Jadi, 24 × 3 = 72
c.       Perkalian dengan cara bersusun pendek
Contoh :
Pelajarilah langkah-langkah perkalian dengan cara bersusun pendek berikut ini!
24    x  6
Cara Penyelesaian:
24
  6  x
144
dari 4 × 6 = 24, ditulis 4, simpan 2
dari (6 × 2) + 2 (simpanan), ditulis 14
Jadi, 24 × 6 = 144

D.    Peningkatan Prestasi Belajar dengan Model Pembelajaran kooperatif tipe Number Head Together (NHT)
Terdapat dasar teoritis yang kuat untuk memprediksi bahwa model pembelajaran kooperatif yang menggunakan tujuan kelompok dan tanggung jawab individual akan meningkatkan pencapaian prestasi siswa, salah satunya yaitu Number Head Together (NHT). Walaupun demikian, sangat penting untuk melakukan penilaian atas metode-metode pembelajaran kooperatif ini secara langsung di dalam kelas pada saat periode realistis pengajaran langsung, untuk menentukan apakah memang memberikan pengaruh pada ukuran pencapaian prestasi di sekolah atau tidak. namun model pembelajaran Number Head Together (NHT) ini secara konsisten terlihat positif dalam semua pelajaran, dengan hasil yang mengejutkan untuk mata pelajaran matematika.
Hasil daripada Model pembelajaran ini dibuktikan dengan meningkatnya minat siswa untuk megerjakan suatu pelajaran secara bersama-sama, karena dengan kebersamaan tersebut tidak ada lagi yang di khawatirkan dalam mengerjakan suatu pelajaran, siswa akan saling membantu dan saling memanfaatkan satu dengan yang lainnya untuk mencari kebenaran suatu jawaban, selain itu metode Number Head Together (NHT) juga di dukung oleh beberapa teori yang sudah teruji seperti Teori Piaget Konstruktivism Kognitif yang berasaskan Premis yang mengutamakan kerjasama secara berkelompok untuk mewujudkan keseimbangan kognitif.



[1] Risa, Aguatin. Kamus Ilmiah Populer. (Surabaya : Serba Jaya, 2005), 431
[2] http://lenterakecil.com/definisi-belajar-menurut-beberapa-psikolog/
[3] Abu Muhammad Ibnu Abdullah. Prestasi Belajar, 2008 (Online) (http://spesialis-torch.com. diakses pada tanggal 5 juni 2012
[4] ibid
[5] Agus, Suprijono. Cooperative Learning. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010)
[6] Slameto. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya.( Jakarta: Rineka Cipta.2003), 56
[7] Ibid. hlm 56
[8] Ibid. hlm 57
[9] Ibid. hlm 57
[10] Isjoni. Cooperatif Learning (Efektifitas Pembelajaran Kelompok). (Bandung : Alfabeta, 2011) ,15
[11] Ibid. Hlm 15-16
[12] Suryanti, dkk. Model-Model Pembelajaran Inovatif. (Surabaya : Unesa University Press, 2009), 15
[13] Isjoni. Cooperatif Learning (Efektifitas Pembelajaran Kelompok). (Bandung : Alfabeta. 2011), 35-39
[14] Bambang, Sugiarto. Mengajar Siswa Belajar (Implementasi Guru di Dalam Kelas). (Surabaya : Unesa University Press, 2009), 48-49
[15] Op Cit. Hlm  41-42
[17] Suryanti, dkk. Model-Model Pembelajaran Inovatif . (Surabaya : Unesa University Press, 2009), 19
[18] Sumantri, Mulyani dan Syaodih, Nana. Perkembangan Peserta didik. (Jakarta: Universitas Terbuka, 2009), 2.6
[19] Gatot, dkk. Pembelajaran Matematika SD. (Tangerang : Universitas Terbuka, 2010)
[20] Tim konsorsium 3 PTAI, matematika I (Surabaya, IAIN Sunan Ampel), 32.
[21] Lisnawaty simanjuntak, metode mengajar matematika,(Jakarta: Rineka Cipta, 1993), 81


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan. diakses pada tanggal 16 mei 2012
[2] Lisnawaty Simanjuntak. Metode Mengajar Matematika 1 ( Jakarta : PT Rineka Cipta, 1993), 65.
[3] Isjoni.. Cooperatif Learning Efektifitas Pembelajaran Kelompok. (Bandung : Alfabeta, 2011), 23

0 komentar:

Post a Comment

Template by:

Free Blog Templates